Kenangan Masa Lalu

Cuaca siang hari yang panas seperti sekarang ini mengingatkan ku peristiwa tiga tahun yang lalu. 11 Nopember 2003 adalah hari pertama aku memasuki sebuah lingkungan kerja yang asing. Sama sekali belum pernah terbayang dalam benakku, sedikit pun. Setelah sebelumnya bekerja sebagai seorang administrasi di sebuah perkantoran, aku terlempar sebagai pegawai kasaran yang menggandalkan otot, sebagai seorang buruh bagian produksi di pabrik kosmetik besar di Surabaya. Otomatis keahlian yang aku dapatkan dibangku sekolah mengenai akuntansi, bahasa inggris dan yang lainnya tidak diperlukan.
Hari pertama aku lewati dengan penuh cucuran keringat. Dipingpong sana sini oleh mereka yang sudah senior. Pertama disuruh pasang tutup botol pelembab. Setelah tidak dibutuhkan aku dilempar disuruh pasang label plastik. Aku baru merasakan seperti itu susahnya bekerja, banting tulang cari uang. Jadi ingat dengan perjuangan orang tua mencari nafkah, belum ada apa-apanya - pikirku. Walau sedih tak dapat aku pungkiri tapi semua harus tetap dijalani. Masa kontrak selama 3 bulan semoga cepat terlewati, doa ku dalam hati.
Allah memang adil. Dalam pergulatan yang menyesakkan itu ada sedikit tetes embun yang menyejukkan. Sebentuk rasa aneh yang mulai tumbuh dalam hatiku. Sosok yang selalu menemani aku saat aku terdiam sendiri – sejenak merenungi nasib. Dia hadir dengan sungging senyum manis, ditambah dengan lesung pipit di kedua belah pipinya. Sosok hitam manis itu jadi penghibur laraku. Pagi yang dulu ku songsong dengan setumpuk rasa malas yang menggunung itu kini berubah. Pagi hari jadi saat yang paling ku nanti karena itu berarti aku kembali bertemu dengan dia, bercanda bersama. Rona bahagia tak hanya nampak padaku, terkadang aku diam-diam melihatnya mencuri pandang kearahku. Menatap dengan sejuta makna. Pandangan kosong – menerawang dengan bola mata berbinar - bergerak lincah.
Hari pertama aku lewati dengan penuh cucuran keringat. Dipingpong sana sini oleh mereka yang sudah senior. Pertama disuruh pasang tutup botol pelembab. Setelah tidak dibutuhkan aku dilempar disuruh pasang label plastik. Aku baru merasakan seperti itu susahnya bekerja, banting tulang cari uang. Jadi ingat dengan perjuangan orang tua mencari nafkah, belum ada apa-apanya - pikirku. Walau sedih tak dapat aku pungkiri tapi semua harus tetap dijalani. Masa kontrak selama 3 bulan semoga cepat terlewati, doa ku dalam hati.
Allah memang adil. Dalam pergulatan yang menyesakkan itu ada sedikit tetes embun yang menyejukkan. Sebentuk rasa aneh yang mulai tumbuh dalam hatiku. Sosok yang selalu menemani aku saat aku terdiam sendiri – sejenak merenungi nasib. Dia hadir dengan sungging senyum manis, ditambah dengan lesung pipit di kedua belah pipinya. Sosok hitam manis itu jadi penghibur laraku. Pagi yang dulu ku songsong dengan setumpuk rasa malas yang menggunung itu kini berubah. Pagi hari jadi saat yang paling ku nanti karena itu berarti aku kembali bertemu dengan dia, bercanda bersama. Rona bahagia tak hanya nampak padaku, terkadang aku diam-diam melihatnya mencuri pandang kearahku. Menatap dengan sejuta makna. Pandangan kosong – menerawang dengan bola mata berbinar - bergerak lincah.
Kebersamaan yang singkat namum menorehkan sejuta kesan yang mendalam. Semua berjalan sangat cepat. Masa kontrak selama 3 bulan, hanya aku jalani selama 2,5 bulan. Siapa sangka dalam masa-masa itu aku mendapat panggilan dari sebuah perusahaan. Tempat ku sekarang memang bukan tempat impian tapi tak dapat ku pungkiri tenggorokanku tercekik kala itu. Melangkahkan kaki meninggalkan tempat ini berarti meninggalkan dia juga…sedang sekarang yang kurasa dia telah menyatu dengan ku. Menjadi bagian dari hidupku….
Berita itu sampai padanya. Aku tak mengucapkan sepatah kata pun saat ia mengkonfrontir kebenaran yang sampai ditelingganya. Hanya anggukan lemah. Sesaat kemudian terdengar alunan lagu sendu………
Dan tak pernah terpikirkan oleh ku
Untuk tinggalkan engkau seperti ini
Tak terbayangkan jika ku beranjak pergi
Betapa berat hancur dan harunya hidupku……..
~ Rapuh – Padi ~
Air mata ini ingin mengalir keluar, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk membendungnya. Menatapnya dengan penuh rasa pasrah. Kenapa harus aku yang melangkah pergi meninggalkanmu. Padahal yang sering terbayang dalam benakku justru kau lah yang akan melangkah pergi meninggalkan aku.
Hari terakhir itu tiba, aku rasanya tak kuat berjalan dengan menganggkat wajah. Muka ini terpekur dalam, menghujam bumi…. Melintas dihadapnya aku pun terus menunduk. Tiba-tiba tanganku menyatu denganmu………..kau buka telapak tanganku dengan perasaan yang bercampur aduk. Sebuah kotak kecil kau letakkan diatasnya, atau lebih tepatnya sebuah kaset.
Dalam kaset itu berisi beberapa lagu kesenanganku………tetapi sebelumnya dia mengawali dengan mengucapkan sebaris kata yang dipaksakan, sehingga kelihatan jelas terasa berat dan terisak. Air mata ini semakin tak terbendung.
Jadilah seperti yang engkau impikan, tinggi seperti bintang dilangit dan tiada sedih lagi. Jika sudah berada ditempat yang tinggi, jangan lupa yang dibawah. Jangan lupakan aku yang jauh mata, dekat dihati…
Perasaan ini sulit untuk digambarkan. Lembayung senja menyuguhkan sore yang kelam. Balada rintihan teralun sempurna. Semua telah berakhir sampai disini. Tapi tidak rasa ini………..
Berita itu sampai padanya. Aku tak mengucapkan sepatah kata pun saat ia mengkonfrontir kebenaran yang sampai ditelingganya. Hanya anggukan lemah. Sesaat kemudian terdengar alunan lagu sendu………
Dan tak pernah terpikirkan oleh ku
Untuk tinggalkan engkau seperti ini
Tak terbayangkan jika ku beranjak pergi
Betapa berat hancur dan harunya hidupku……..
~ Rapuh – Padi ~
Air mata ini ingin mengalir keluar, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk membendungnya. Menatapnya dengan penuh rasa pasrah. Kenapa harus aku yang melangkah pergi meninggalkanmu. Padahal yang sering terbayang dalam benakku justru kau lah yang akan melangkah pergi meninggalkan aku.
Hari terakhir itu tiba, aku rasanya tak kuat berjalan dengan menganggkat wajah. Muka ini terpekur dalam, menghujam bumi…. Melintas dihadapnya aku pun terus menunduk. Tiba-tiba tanganku menyatu denganmu………..kau buka telapak tanganku dengan perasaan yang bercampur aduk. Sebuah kotak kecil kau letakkan diatasnya, atau lebih tepatnya sebuah kaset.
Dalam kaset itu berisi beberapa lagu kesenanganku………tetapi sebelumnya dia mengawali dengan mengucapkan sebaris kata yang dipaksakan, sehingga kelihatan jelas terasa berat dan terisak. Air mata ini semakin tak terbendung.
Jadilah seperti yang engkau impikan, tinggi seperti bintang dilangit dan tiada sedih lagi. Jika sudah berada ditempat yang tinggi, jangan lupa yang dibawah. Jangan lupakan aku yang jauh mata, dekat dihati…
Perasaan ini sulit untuk digambarkan. Lembayung senja menyuguhkan sore yang kelam. Balada rintihan teralun sempurna. Semua telah berakhir sampai disini. Tapi tidak rasa ini………..
Ku ingin kembali ke masa itu
Kala bunga cinta bermekaran
Debar rindu tak tertahankan
Sebentuk senyum mengusik tidur lelap
Senyum manis tersimpan, menghiasi hari
Bayang wajahmu selalu ada dalam hatiku
Tak tergantikan oleh apapun
Tak berkurang secuil pun
Cintamu begitu agung
Terlalu manis untuk ku lupakan
Cintamu ada untuk selamanya






0 Comments:
Post a Comment
<< Home