Senja Dimatamnya
PEREMPUAN itu terpaku di bawah matahari yang melata. Udara panas tak meruntuhkan niatnya untuk datang ke tempat megah dan bersih itu. Sebuah pernikahan anak orang kaya. Senyum perempuan itu tak pernah berhenti. Sudut bibirnya berkecipak kekaguman. Sepasang mata cokelatnya berbinar-binar menerangi hatinya.
Pernikahan itu sangatlah membahagiakan hatinya. Dan dari kejauhan, ia lihat sang mempelai perempuan menebarkan senyum. Senyum yang sangat jelas untuk mengungkapkan hati yang tengah berbahagia.
Menikah, ya menikah. Ia jadi ingat bahwa dulu ia pernah menikah dengan seorang laki-laki. Ah, sudahlah itu sudah berlalu. Memang manis untuk dikenang tetapi akan membuat hatinya merentas bila ia ingat suaminya. Dan sekarang di bawah terik matahari itu ia tak ingin mengingat masa lalunya. Ia ingin larut dalam bahagia ini.
Ia lega bisa melihat pernikahan itu, meski dari kejauhan. Ia merelakan seluruh waktunya untuk perhelatan itu. Setiap detik perjalanan waktu adalah detik-detik menegangkan buat dia. Ia seperti tengah menghadapi masa-masa yang sulit ia bedakan. Apakah ia sangat bahagia atau tengah bermimpi?
Bongkahan ombak terus mengguncang jantungnya. Berkali-kali ia meremas-remas jari-jari tangannya. Ia takut kalau acara pernikahan akbar itu akan terganggu oleh sesuatu, bahkan gagal. Maka wajah perempuan itu akan menyusut. Tampak sekali aroma ketakutan membias di wajahnya yang lusuh, seperti baju yang tengah ia kenakan.
Hingga tiba waktunya. Saat-saat menentukan itu. Perempuan itu berdiri mematung. Dalam tubuhnya, ia merasakan ribuan kubik air tumpah. Ia kedinginan di bawah terik matahari. Acara ikrar ijab qabul itu baginya acara puncak.
Udara membeku di bawah matahari yang melata itu. Keringat dingin mengucur pelan dari pelipis kanannya jatuh membentuk parit kecil di pipi. Ia tak menyeka keringat itu, membiarkannya pelan-pelan mengumpul di bagian bawah rahangnya, lalu membentuk butiran air dan menitik ke bumi. Meresap sunyi di bumi Tuhan. Ia ingin agar bumi tahu, betapa keringat itu terlalu asin, karena terlampau keras hidup harus ia jalani.
Ia kecut, nyeri. Mempelai laki-laki itu berkali-kali melakukan kesalahan ucap, hingga penghulu harus membimbingnya berkali-kali. Ah, selalu demikian. Tidak selancar ketika seseorang mengeluh pada Tuhan tentang hidup yang selalu keruh.
Dari pelipis kanannya mengucur lagi butiran keringatnya. Ia membiarkan lagi butiran keringat itu meluncur pelan membentuk parit kecil di pipinya yang cekung. Tak lama kemudian keringat dari pelipisnya benar-benar mengumpul di ujung bawah rahangnya, membentuk butiran air. Jatuh. Meresap ke bumi.
Ia mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya, begitu mempelai laki-laki selesai mengucapkan ijab qabul. Ia sangat lega. Baru kali ini ia merasa lega dan bahagia dalam hidupnya. Ia lega. Sangat lega. Ia tahu perempuan itu menjatuhkan pilihan yang tepat. Menikah dengan laki-laki yang mencintainya.
* * *
HARI itu entah hari keberapa perempuan itu terpaku di depan rumah megah itu. Sudah bertahun-tahun ia selalu diam sejenak di situ di sela-sela pekerjaannya sebagai pemulung. Ia pandangi rumah itu dengan segenap rindu dan hasrat bertemu dengan seseorang.
Di rumah itulah tinggal mempelai perempuan cantik itu, yang belum lama menikah dengan lelaki pujaannya. Setiap kali berhenti di rumah megah itu, dan setiap kali melihat penutup sampah rumah itu, hatinya nyeri. Ia selalu ingin sekali bertemu dengan perempuan cantik itu, sejak masih bayi.
Ketika berdiri di salah satu sudut di sana, ingatannya langsung melayang ke peristiwa dua puluh tiga tahun lalu. Ia hamil. Ketika akan melahirkan, ia belum punya persiapan apa-apa. Jangankan pakaian dan segala macam, satu kain popok pun ia tidak punya. Apalagi biaya melahirkan yang sungguh tak terbayang jumlahnya.
Perempuan itu menghela napas. Dadanya terasa sesak. Tapi tanpa ia duga, suaminya nekat mencopet di pasar. Ia diteriaki copet dan hanya dalam hitungan menit, suaminya babak belur. Sekujur tubuhnya penuh luka. Ia ingat, waktu itu siang sangat terik. Ia harus menerima kenyataan pahit. Suaminya pulang tinggal nama. Dunia porak-poranda dalam tubuhnya. Porak-poranda.
"Suamimu mencopet di pasar, ia digebuki sampai mati."
Ia mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat. Lalu berteriak menyalahkan orang-orang yang mengantar jasad suaminya. Ia pun melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa, dengan hati mendidih. Ia ke pasar dan berteriak-teriak menyalahkan semua orang yang ia temui. Ia kelelahan hingga akhirnya pingsan tepat di mana suaminya dihajar orang-orang.
Ketika sadar, ia sudah berada di rumah sakit. Memandangi kamar yang sangat bagus dengan nanar. Dan entah bagaimana, seorang bayi mungil tertidur di sampingnya. Ia anaknya. Entah kapan ia telah melahirkan. Ia pun tidak ingat berapa lama ia pingsan. Tetapi ada rasa nyeri di selangkangnya.
Seorang perempuan cantik ada di sampingnya, tersenyum begitu tulus. Kepadanya perempuan cantik itu berkeinginan merawat bayinya bila diizinkan. Dadanya langsung sesak. Ia harus berpisah dengan bayinya. Tak ada kata-kata seindah apa pun untuk menerangkan arti kehadiran anak baginya, bagi seorang ibu, terlebih setelah kepergian suaminya.
Tetapi, ia berpikir pula, mungkin ini seseorang yang diutus malaikat untuk menyelamatkan dirinya sekaligus bayinya. Kalau tetap bersamanya, bagaimana mungkin ia memberi makan bayi itu. Ia tidak punya apa-apa. Tidak punya pekerjaan, juga tidak punya saudara. Ia hidup sebatang kara. Ia pun tidak tahu dirinya anak siapa. Ia menemukan dirinya di jalanan, sejak kecil. Ia juga bertemu suaminya di jalanan.
Akhirnya dengan hati yang berat, ia relakan bayi perempuan yang hanya sempat ia susui selama dua hari. Ia sempat mengantar bayinya ke rumah perempuan cantik itu. Dan sejak itu ia menandai rumah perempuan cantik itu. Ia pun pindah ke jembatan layang agar lebih mudah melihat pertumbuhan bayi perempuannya dari waktu ke waktu. Ia mengais rezeki dari tempat-tempat sampah di sekitar rumah perempuan cantik itu.
Sejak itu setiapkali melintas di depan rumah perempuan cantik itu hatinya selalu miris. Terlebih bila mendengar tangis bayi perempuan dari dalam rumah itu. Entah mengapa setiap kali ia tiba di depan rumah itu dan mengorek isi tempat sampah, tak lama kemudian bayinya akan menangis. Makin lama tangisan bayinya makin kencang. Seolah ia memanggil-manggil ibunya. Saat-saat seperti itulah, sering air susunya membanjiri pakaiannya yang lusuh.
Ingin sekali ia berlari ke dalam rumah itu dan menyusui bayinya, tetapi bentangan pagar rumah itu terlampai tinggi, tebal dan kuat. Ia akan terus di depan rumah itu sampai bayinya terdiam. Dan ia lega bila bayinya telah diam lalu terdengar alunan lagu nina bobo. Ia tahu tidak salah menyerahkan bayinya kepada perempuan cantik itu, tetapi ia bersumpah akan terus mengikuti pertumbuhan bayinya.
Ia sesungguhnya telah bahagia. Perempuan cantik itu sangat menyayangi bayinya. Menyekolahkannya hingga menjadi sarjana. Terakhir menikah dengan acara sangat istimewa. Ia bahagia anaknya memiliki kehidupan mapan. Tidak terlunta-lunta seperti dirinya, tahun berganti tahun.
Ia menelan ludah. Menunduk. Ada satu keinginan yang terus tumbuh akhir-akhir ini. Ia ingin bertemu dengan anaknya, memeluknya, dan mendengar panggilan ibu dari anak yang ia lahirkan duapuluh tiga tahun lalu.
* * *
IA menundukkan kepalanya. Menekuri tanah beraspal. Pelan ia melangkah menuju tempat sampah. Mengulurkan tangan kanannya yang legam. Menyentuh penutup sampah. Terasa berat, hingga punggung sebelah kanannya terasa nyeri. Matanya yang kecokelatan mencari-cari barang-barang yang bisa ia ambil. Ada di sudut tempat sampah, ia pun mengoreknya dengan sebatang besi.
Ternyata banyak bekas botol minuman mineral serta koran-koran bekas setelah batang besi itu menyingkap sebuah kain lap yang sudah robek. Wajahnya sedikit ceria. Ia girang. Dimasukkannya botol minuman mineral. Koran bekas, plastik dan beberapa tutup botol, beberapa kaleng bekas minuman ringan. Ia khusyuk dengan pekerjaannya. Memunguti barang-barang itu ke dalam karung putih yang sudah berubah warnanya.
"Kreek."
Perempuan berpakaian lusuh itu terperanjat. Ia menoleh. Dadanya telah berpindah tempat. Perempuan yang ia lihat dari kejauhan saat menikah itu, sekarang ada di dekatnya. Perempuan itu membawa sekantong kaleng-kaleng minuman ringan.
"Ini buat ibu."
Ia tak percaya bila sekarang tengah berhadapan dengan perempuan yang telah lama ia inginkan untuk bisa bertemu.
"Ini."
Ia masih tak percaya bila perempuan itu tengah mengulurkan sekantong plastik ukuran besar penuh dengan kaleng-kaleng minuman ringan juga ada kaleng roti. Ia memandangi lekat-lekat wajah perempuan itu. Ia hanya diam. Seperti tak bisa berbuat apa pun.
Perempuan itu tanpa ia duga memasukkan sekantong plastik penuh kaleng ke dalam karungnya. Ia hanya bisa mengangguk-angguk lalu berlalu dengan sangat tergesa-gesa. Ia pun lupa untuk sekadar mengucapkan terimakasih.
Ia masuk ke rumah kardusnya dengan napas memburu. Ia terengah-engah. Ditaruhnya karung barang-barang bekas itu di tanah. Ia terduduk lemas. Bersandar pada dinding tripleks yang sana-sini penuh lubang.
"Ia, ia. Aku melihatnya. Aku melihatnya."
Berkali-kali ia mengucapkan itu. Seluruh urat-uratnya menegang, dan pori-porinya basah oleh keringat. Direbahkannya tubuhnya di tanah yang hanya dilapisi kardus-kardus. Ditariknya setumpuk koran bekas yang sudah ia ikat, tetapi belum ia bawa ke lapak untuk ditukar dengan rupiah.
Disandarkannya kepalanya di atas tumpukan koran. Matanya yang sayu memandangi langi-langit rumahnya. Langit-langit rumah dari kardus-kardus tebal juga triplek-triplek sisa. Kembali, satu persatu, peristiwa dua puluh tiga tahun lalu itu mengisi pikirannya. Peristiwa yang sungguh miris untuk dikenang.
Saat itulah, kembali semangatnya untuk bertemu anaknya kembali bergelora. Tubuhnya seperti bergetar. Seperti ada kekuatan sungguh dahsyat yang mendorongnya untuk bangkit dan berlari, menuju rumah megah itu, tempat tinggal anak perempuannya itu. Tetapi sampai di sana, ia kembali lemas. Tak berdaya.
* * *
SENJA mengapung di mata perempuan itu. Ini entah sudah senja keberapa perempuan itu berdiri di depan pagar tinggi, tebal dan kuat, tempat anak perempuannya tinggal bersama suami dan orang tua angkatnya itu. Ia hanya bisa memegangi pagar rumah itu. Hatinya ragu. Apakah anaknya akan mau memanggilnya, ibu. Panggilan yang sangat lama ia rindukan.
Malam telah sempurna, ia masih memegangi pagar rumah itu kuat-kuat.
Pernikahan itu sangatlah membahagiakan hatinya. Dan dari kejauhan, ia lihat sang mempelai perempuan menebarkan senyum. Senyum yang sangat jelas untuk mengungkapkan hati yang tengah berbahagia.
Menikah, ya menikah. Ia jadi ingat bahwa dulu ia pernah menikah dengan seorang laki-laki. Ah, sudahlah itu sudah berlalu. Memang manis untuk dikenang tetapi akan membuat hatinya merentas bila ia ingat suaminya. Dan sekarang di bawah terik matahari itu ia tak ingin mengingat masa lalunya. Ia ingin larut dalam bahagia ini.
Ia lega bisa melihat pernikahan itu, meski dari kejauhan. Ia merelakan seluruh waktunya untuk perhelatan itu. Setiap detik perjalanan waktu adalah detik-detik menegangkan buat dia. Ia seperti tengah menghadapi masa-masa yang sulit ia bedakan. Apakah ia sangat bahagia atau tengah bermimpi?
Bongkahan ombak terus mengguncang jantungnya. Berkali-kali ia meremas-remas jari-jari tangannya. Ia takut kalau acara pernikahan akbar itu akan terganggu oleh sesuatu, bahkan gagal. Maka wajah perempuan itu akan menyusut. Tampak sekali aroma ketakutan membias di wajahnya yang lusuh, seperti baju yang tengah ia kenakan.
Hingga tiba waktunya. Saat-saat menentukan itu. Perempuan itu berdiri mematung. Dalam tubuhnya, ia merasakan ribuan kubik air tumpah. Ia kedinginan di bawah terik matahari. Acara ikrar ijab qabul itu baginya acara puncak.
Udara membeku di bawah matahari yang melata itu. Keringat dingin mengucur pelan dari pelipis kanannya jatuh membentuk parit kecil di pipi. Ia tak menyeka keringat itu, membiarkannya pelan-pelan mengumpul di bagian bawah rahangnya, lalu membentuk butiran air dan menitik ke bumi. Meresap sunyi di bumi Tuhan. Ia ingin agar bumi tahu, betapa keringat itu terlalu asin, karena terlampau keras hidup harus ia jalani.
Ia kecut, nyeri. Mempelai laki-laki itu berkali-kali melakukan kesalahan ucap, hingga penghulu harus membimbingnya berkali-kali. Ah, selalu demikian. Tidak selancar ketika seseorang mengeluh pada Tuhan tentang hidup yang selalu keruh.
Dari pelipis kanannya mengucur lagi butiran keringatnya. Ia membiarkan lagi butiran keringat itu meluncur pelan membentuk parit kecil di pipinya yang cekung. Tak lama kemudian keringat dari pelipisnya benar-benar mengumpul di ujung bawah rahangnya, membentuk butiran air. Jatuh. Meresap ke bumi.
Ia mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya, begitu mempelai laki-laki selesai mengucapkan ijab qabul. Ia sangat lega. Baru kali ini ia merasa lega dan bahagia dalam hidupnya. Ia lega. Sangat lega. Ia tahu perempuan itu menjatuhkan pilihan yang tepat. Menikah dengan laki-laki yang mencintainya.
* * *
HARI itu entah hari keberapa perempuan itu terpaku di depan rumah megah itu. Sudah bertahun-tahun ia selalu diam sejenak di situ di sela-sela pekerjaannya sebagai pemulung. Ia pandangi rumah itu dengan segenap rindu dan hasrat bertemu dengan seseorang.
Di rumah itulah tinggal mempelai perempuan cantik itu, yang belum lama menikah dengan lelaki pujaannya. Setiap kali berhenti di rumah megah itu, dan setiap kali melihat penutup sampah rumah itu, hatinya nyeri. Ia selalu ingin sekali bertemu dengan perempuan cantik itu, sejak masih bayi.
Ketika berdiri di salah satu sudut di sana, ingatannya langsung melayang ke peristiwa dua puluh tiga tahun lalu. Ia hamil. Ketika akan melahirkan, ia belum punya persiapan apa-apa. Jangankan pakaian dan segala macam, satu kain popok pun ia tidak punya. Apalagi biaya melahirkan yang sungguh tak terbayang jumlahnya.
Perempuan itu menghela napas. Dadanya terasa sesak. Tapi tanpa ia duga, suaminya nekat mencopet di pasar. Ia diteriaki copet dan hanya dalam hitungan menit, suaminya babak belur. Sekujur tubuhnya penuh luka. Ia ingat, waktu itu siang sangat terik. Ia harus menerima kenyataan pahit. Suaminya pulang tinggal nama. Dunia porak-poranda dalam tubuhnya. Porak-poranda.
"Suamimu mencopet di pasar, ia digebuki sampai mati."
Ia mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat. Lalu berteriak menyalahkan orang-orang yang mengantar jasad suaminya. Ia pun melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa, dengan hati mendidih. Ia ke pasar dan berteriak-teriak menyalahkan semua orang yang ia temui. Ia kelelahan hingga akhirnya pingsan tepat di mana suaminya dihajar orang-orang.
Ketika sadar, ia sudah berada di rumah sakit. Memandangi kamar yang sangat bagus dengan nanar. Dan entah bagaimana, seorang bayi mungil tertidur di sampingnya. Ia anaknya. Entah kapan ia telah melahirkan. Ia pun tidak ingat berapa lama ia pingsan. Tetapi ada rasa nyeri di selangkangnya.
Seorang perempuan cantik ada di sampingnya, tersenyum begitu tulus. Kepadanya perempuan cantik itu berkeinginan merawat bayinya bila diizinkan. Dadanya langsung sesak. Ia harus berpisah dengan bayinya. Tak ada kata-kata seindah apa pun untuk menerangkan arti kehadiran anak baginya, bagi seorang ibu, terlebih setelah kepergian suaminya.
Tetapi, ia berpikir pula, mungkin ini seseorang yang diutus malaikat untuk menyelamatkan dirinya sekaligus bayinya. Kalau tetap bersamanya, bagaimana mungkin ia memberi makan bayi itu. Ia tidak punya apa-apa. Tidak punya pekerjaan, juga tidak punya saudara. Ia hidup sebatang kara. Ia pun tidak tahu dirinya anak siapa. Ia menemukan dirinya di jalanan, sejak kecil. Ia juga bertemu suaminya di jalanan.
Akhirnya dengan hati yang berat, ia relakan bayi perempuan yang hanya sempat ia susui selama dua hari. Ia sempat mengantar bayinya ke rumah perempuan cantik itu. Dan sejak itu ia menandai rumah perempuan cantik itu. Ia pun pindah ke jembatan layang agar lebih mudah melihat pertumbuhan bayi perempuannya dari waktu ke waktu. Ia mengais rezeki dari tempat-tempat sampah di sekitar rumah perempuan cantik itu.
Sejak itu setiapkali melintas di depan rumah perempuan cantik itu hatinya selalu miris. Terlebih bila mendengar tangis bayi perempuan dari dalam rumah itu. Entah mengapa setiap kali ia tiba di depan rumah itu dan mengorek isi tempat sampah, tak lama kemudian bayinya akan menangis. Makin lama tangisan bayinya makin kencang. Seolah ia memanggil-manggil ibunya. Saat-saat seperti itulah, sering air susunya membanjiri pakaiannya yang lusuh.
Ingin sekali ia berlari ke dalam rumah itu dan menyusui bayinya, tetapi bentangan pagar rumah itu terlampai tinggi, tebal dan kuat. Ia akan terus di depan rumah itu sampai bayinya terdiam. Dan ia lega bila bayinya telah diam lalu terdengar alunan lagu nina bobo. Ia tahu tidak salah menyerahkan bayinya kepada perempuan cantik itu, tetapi ia bersumpah akan terus mengikuti pertumbuhan bayinya.
Ia sesungguhnya telah bahagia. Perempuan cantik itu sangat menyayangi bayinya. Menyekolahkannya hingga menjadi sarjana. Terakhir menikah dengan acara sangat istimewa. Ia bahagia anaknya memiliki kehidupan mapan. Tidak terlunta-lunta seperti dirinya, tahun berganti tahun.
Ia menelan ludah. Menunduk. Ada satu keinginan yang terus tumbuh akhir-akhir ini. Ia ingin bertemu dengan anaknya, memeluknya, dan mendengar panggilan ibu dari anak yang ia lahirkan duapuluh tiga tahun lalu.
* * *
IA menundukkan kepalanya. Menekuri tanah beraspal. Pelan ia melangkah menuju tempat sampah. Mengulurkan tangan kanannya yang legam. Menyentuh penutup sampah. Terasa berat, hingga punggung sebelah kanannya terasa nyeri. Matanya yang kecokelatan mencari-cari barang-barang yang bisa ia ambil. Ada di sudut tempat sampah, ia pun mengoreknya dengan sebatang besi.
Ternyata banyak bekas botol minuman mineral serta koran-koran bekas setelah batang besi itu menyingkap sebuah kain lap yang sudah robek. Wajahnya sedikit ceria. Ia girang. Dimasukkannya botol minuman mineral. Koran bekas, plastik dan beberapa tutup botol, beberapa kaleng bekas minuman ringan. Ia khusyuk dengan pekerjaannya. Memunguti barang-barang itu ke dalam karung putih yang sudah berubah warnanya.
"Kreek."
Perempuan berpakaian lusuh itu terperanjat. Ia menoleh. Dadanya telah berpindah tempat. Perempuan yang ia lihat dari kejauhan saat menikah itu, sekarang ada di dekatnya. Perempuan itu membawa sekantong kaleng-kaleng minuman ringan.
"Ini buat ibu."
Ia tak percaya bila sekarang tengah berhadapan dengan perempuan yang telah lama ia inginkan untuk bisa bertemu.
"Ini."
Ia masih tak percaya bila perempuan itu tengah mengulurkan sekantong plastik ukuran besar penuh dengan kaleng-kaleng minuman ringan juga ada kaleng roti. Ia memandangi lekat-lekat wajah perempuan itu. Ia hanya diam. Seperti tak bisa berbuat apa pun.
Perempuan itu tanpa ia duga memasukkan sekantong plastik penuh kaleng ke dalam karungnya. Ia hanya bisa mengangguk-angguk lalu berlalu dengan sangat tergesa-gesa. Ia pun lupa untuk sekadar mengucapkan terimakasih.
Ia masuk ke rumah kardusnya dengan napas memburu. Ia terengah-engah. Ditaruhnya karung barang-barang bekas itu di tanah. Ia terduduk lemas. Bersandar pada dinding tripleks yang sana-sini penuh lubang.
"Ia, ia. Aku melihatnya. Aku melihatnya."
Berkali-kali ia mengucapkan itu. Seluruh urat-uratnya menegang, dan pori-porinya basah oleh keringat. Direbahkannya tubuhnya di tanah yang hanya dilapisi kardus-kardus. Ditariknya setumpuk koran bekas yang sudah ia ikat, tetapi belum ia bawa ke lapak untuk ditukar dengan rupiah.
Disandarkannya kepalanya di atas tumpukan koran. Matanya yang sayu memandangi langi-langit rumahnya. Langit-langit rumah dari kardus-kardus tebal juga triplek-triplek sisa. Kembali, satu persatu, peristiwa dua puluh tiga tahun lalu itu mengisi pikirannya. Peristiwa yang sungguh miris untuk dikenang.
Saat itulah, kembali semangatnya untuk bertemu anaknya kembali bergelora. Tubuhnya seperti bergetar. Seperti ada kekuatan sungguh dahsyat yang mendorongnya untuk bangkit dan berlari, menuju rumah megah itu, tempat tinggal anak perempuannya itu. Tetapi sampai di sana, ia kembali lemas. Tak berdaya.
* * *
SENJA mengapung di mata perempuan itu. Ini entah sudah senja keberapa perempuan itu berdiri di depan pagar tinggi, tebal dan kuat, tempat anak perempuannya tinggal bersama suami dan orang tua angkatnya itu. Ia hanya bisa memegangi pagar rumah itu. Hatinya ragu. Apakah anaknya akan mau memanggilnya, ibu. Panggilan yang sangat lama ia rindukan.
Malam telah sempurna, ia masih memegangi pagar rumah itu kuat-kuat.
Depok, September 2004
Dianing Widya Yudhistira






0 Comments:
Post a Comment
<< Home