Keranda Kerinduan
Perkenalan mereka bermula begitu saja. Tanpa diduga, tanpa direncana sebelumnya. Ini terjadi di dunia bukan sembarang dunia, tapi dunia maya. Cyberspace, bahasa kerennya. Jagat semu. Tak kasat mata, namun terasa amat nyata. Batas-batas ruang rubuh, dunia menyusut, menyempit ke dalam sebuah layar kaca. Berawal dari keisengan Noval saat mengelana di sebuah chat room yang diberinya nama duda nyari janda, tiba-tiba muncul seorang tamu dengan ID unik ; RAWIT (perawan genit). Ruang ini khusus untuk para janda? tanya perawan genit, bercanda. Tidak juga! Ndak ada janda, siapa pun jadi (asal perempuan), balas Noval. Kalau perawan? Ndak apa-apa, asal sudah tua! Kalau masih muda? Ndak apa-apa juga, asal masih perawan. Hmn, boleh juga nih, asl pls!*). M 29 th, Jgj (Jogja), u?**). F 26 th, PKU (Pekanbaru). Real name? ***) Noval, u?. Novi. Ok, thanks Novi!Kenapa menduda? kan masih muda? Kebetulan saja, sama halnya dengan Novi, kebetulan masih perawan. Maksudnya? Kebetulan saja sudah duda, padahal masih belia. O ya, Novi kok masih perawan? Karena belum nikah ya? (he3). Banyak yang belum nikah, tapi sudah tidak perawan. Banyak yang belum nikah, tapi sudah ‘kawin’? Ah, parno ah! Mas Noval orangnya jelek ya? (hi3). Lho, kok tau? Biasanya orang pintar ngomong itu, jelek tampangnya. Ya, tampang saya tak hanya jelek, tapi juga serem. Jelek-jelek, asyik juga! Sori, saya off dulu, makacih Novi. Tunggu! Boleh minta emailnya? sudah_duda@sukajanda.com. Emailku : novi_pernit@yahoo.com. Bye!. Bye juga!***Pa kabar? Lama tak OL (online)? Gimana? Sudah ketemu janda yang dicari? Banyak gadis, malah suka janda. Ayo? Mau jawab kebetulan lagi? Kapan bisa chat lagi? Mas Noval jelek-jelek kok bikin kangen ya? Ke mana aja?, FROM : Novi Sulastri (novi_pernit@yahoo.com), SUBJECT : Sudah Ketemu Janda?, TO : Noval Suratno (sudah_duda@sukajanda.com). Begitulah! Novi belum pernah ketemu Noval, belum melihat batang hidung lelaki asing yang ‘nyentrik’ itu. Begitu juga Noval, belum melihat rupa asli Novi. Tak ada kesepakatan untuk jumpa darat, memang. Lagi pula, bagaimana akan bertemu muka? Satu di Jawa, satunya lagi di Sumatera. Tapi, kebetulan sekali, saat menerima surel (surat elektronik) dari Novi, Noval sedang menyusun rencana keberangkatan ke Riau. Ada tugas liputan investigasi dari majalah tempat ia bekerja. Maaf, beberapa hari terakhir ini saya agak sibuk. Chat? Waduh! Saya ndak punya waktu. Ketemuan aja yuk! Kebetulan minggu depan saya akan berangkat ke Pekanbaru. Begitu sudah di sana, saya telpon kamu. Boleh kan?, FROM : Noval Suratno (sudah_duda@sukajanda.com), SUBJECT : RE : Sudah Ketemu Janda?, TO : Novi Sulastri (novi_pernit@yahoo.com)
Pekanbaru, Januari 2004 Masa’ semuda ini sudah duda? Ah, jangan bohong lah! Sungguh, saya memang duda. Sungguh (juga), aku masih perawan, belum ‘kawin’, apalagi menikah! O ya, ada pekerjaan apa di sini, tumben baru sekali chatting kok udah kopdar (kopi darat)? Ada liputan. Jurnalis? Benar! Liputan tentang apa? Masalah terorisme.Waw, mas teroris ya? Ndak, saya bukan teroris, saya duda!Berbilang bulan Noval tinggal di kota itu. Hubungan mereka makin dekat, makin akrab. Tak lagi di ruang maya, sudah di ruang nyata. Noval dan Novi benar-benar telah bertemu muka. Novi amat peduli pada Noval, teman baru dari Jogja. Mengurus kepindahan Noval, dari hotel pertama kali ia menginap ke rumah kontrakan sederhana. Memberi kursus singkat bahasa daerah, “agar tak ditipu orang sini”, kata Novi. Menunjukkan jalur-jalur alternatif bila sewaktu-waktu terjadi kemacetan. Mentraktir Noval makan siang di kantin murah meriah, tak jauh dari rumah sakit kelas menengah tempat Novi sehari-sehari bekerja, sebagai analis medis. Menemani Noval berbelanja kebutuhan harian (Odol, Sikat Gigi, Hair Cream, Sweam Pack, Sabun Mandi, Deterjen). “Kasihan ‘orang baru’ jalan sendiri” kata Novi lagi. Kenapa menduda? Karena cerai dengan istri saya. Kapan? Setahun lalu. Kenapa cerai? Istri saya yang minta. Mas tidak mempertahankannya? Sudah, tapi dia mendesak, mengancam akan bunuh diri bila tidak segera diceraikan. Kenapa? Katanya, sudah bosan dengan saya, ingin kembali pada mantan suaminya.Waw! Istri mas Noval sudah janda sebelumnya? (Noval mengangguk). Kok menikah dengan janda? Mas Noval kan bujangan waktu itu? Dia mendesak, mengancam akan bunuh diri bila tidak segera dinikahi (Novi geleng-geleng kepala). Mas Noval mencintainya? Awalnya cuma kasihan, tapi lambat laun saya belajar mencintainya. Berhasil mencintainya? Hampir! Tapi tiba-tiba dia sudah minta cerai. Punya anak? Ya. Dua, satu meninggal, satunya sudah 1,5 tahun. Siapa namanya? Ruzang Fhir (meninggal umur 8 bulan), Hazen Kawakibina, sekarang di rumah mbahnya, di Jawa. Lalu, mantan istri mas sudah nikah lagi? Sudah, tapi sekarang (sudah) cerai lagi!Orang tua mana yang merelakan anak gadisnya menjalin hubungan khusus dengan lelaki yang tak jelas asal usulnya? Si mama risih dan cemas bila membayangkan Novi, si bungsu yang manja, tiba-tiba jatuh hati pada Noval, lelaki kerempeng dan gondrong sebahu, yang sempat diajaknya singgah ke rumah ini. “Kasihan! Masih muda sudah duda” kata Novi waktu itu. “Sekedar berteman boleh-boleh saja! Tapi, awas! Jangan sampai berpacaran! Masa’ gadis secantik kamu dapat duda?”. Novi tersinggung mendengar teguran mama yang agak sentimentil. Seperti hendak menyela, tapi tak mungkin. Kapan dia pulang?, tanya mama Novi, sinis. Tiga hari lagi, pekerjaannya hampir selesai. Apa pekerjaannya? Wartawan! Nah, sudah duda, wartawan pula! Pasti sering ke luar kota, pasti banyak ceweknya. Kamu masih cuti kan? Kalau begitu, jangan ke mana-mana! Di rumah saja! Tunggu sampai dia pulang ke Jogja! Tapi ma! Pokoknya tidak boleh keluar rumah selama orang itu masih di sini. Titik! Atau ‘jangan-jangan’ kamu sudah jatuh cinta ya?Novi diam. Sementara, mamanya terus menggerutu.***
Tak sempat Noval pamit pada Novi. Sekedar berterima kasih dan tinggalkan alamat pun tidak pula. Bagaimana akan berpamitan? Tiga hari sebelum kepulangan Noval, Novi tak muncul-muncul, tak nampak batang hidungnya. Ditelpon, mailbox melulu. Dicari ke tempat kerja, katanya cuti. Datang ke rumahnya? Ah, tak mungkin! Noval membaca gelagat kurang ramah di wajah mama Novi, saat ia diajak mampir beberapa hari lalu. Agak enggan, bila bertamu lagi ke sana. Noval telah meninggalkan kota kenangan itu. Kota kecil tempat ia bertemu Novi, gadis muda yang suka bertanya-tanya. Lucu, tapi tak pemalu. Entah kapan Noval bakal bersua kembali dengan Novi. Tapi, setiap benih ketulusan Novi yang telah tersemai di hatinya, selalu disiramnya dengan gerimis masa lalu. Ya, gerimis yang merintik dari bola mata Noval saat menerawang, menggambarkan kenangan saat almarhum Ruzang Fhir cemplungkan tangan mungilnya ke dalam Aquarium karena geli melihat tiga pasang Mas Koki berenang, kejar-kejaran berebut makanan. Tanpa firasat, tanpa pertanda, tiba-tiba Ruzang pergi, meninggalkan senyum lucu, hanya menyisakan ngilu. Gerimis yang mendera, setelah lelaki itu tertimpa musibah bertubi-tubi. Anaknya meninggal, tak lama kemudian istrinya minta cerai. Kehilangan anak, istri, dan (kini) kehilangan Novi. Novi tak peduli lagi apakah mas Noval masih bujangan atau sudah duda. Juga pada takdir yang harus pertemukan gadis perawan dengan lelaki perjaka. Persetan dengan semua petuah mama. Novi sudah berhenti kerja. Jenuh. Bosan. Lebih-lebih, sejak kepergian mas. Mama, Papa, bang Fajrul, kak Irna marah-marah. Kata mereka, Novi sudah GILA. Gila rindu, mungkin. Novi pasti sudah di Jogja saat mas Noval membaca email ini. Mas Noval di mana? (Sebelum pulang kenapa tak tinggalkan alamat?). Di mana kita ketemu? Novi kangen! FROM : Novi Sulastri (novi_pernit@yahoo.com), SUBJECT : Kangen, TO : Noval Suratno (sudah_duda@sukajanda.com).Berminggu-minggu Novi menunggu kabar dari Noval. Tapi, emailnya tak kunjung berbalas. Sudah berkali-kali dihubungi ke nomor pribadinya, tapi ponsel Noval tidak aktif. Novi tetap sabar, bersetia menanam harap, sambil menggambarkan ekspresi wajah Noval saat mereka berjumpa kembali. Mungkin, Noval sedang ada tugas liputan luar kota. Mungkin pula sedang mengunjungi Hazen ke rumah mbahnya, entah di mana. Jadi, belum sempat cek surat-surat di inbox emailnya.Selamat siang! Bisa bicara dengan mas Noval Suratno? Siang! Maaf, pak Noval sudah berhenti kerja. Saya bicara dengan siapa? Novi, teman mas Noval. Boleh tau, pindah kerjanya ke mana? Maaf, kami kurang tahu. Kenapa mas Noval berhenti kerja? Sebenarnya, tidak berhenti, tapi terpaksa dikeluarkan. Maksudnya? Sejak kematian puteranya, ia depresi berat. Makin parah setelah ia cerai dengan istrinya. Perusahaan tak bisa lagi mempertahankannya. Kapan kejadiannya? Sudah lama, sekitar 3 tahun lalu. Kabar terakhir yang kami dengar, pak Noval dirawat di RSJ (Rumah Sakit Jiwa). Halo? Haloo? Halooo? Lho, kok diputus?Di kota lain, sebuah keluarga sedang panik dan uring-uringan karena baru saja kehilangan anak gadisnya. Foto perempuan berwajah oval, rambut ikal tanggung, ada tahi lalat di pipi kanannya terpampang di halaman koran-koran lokal. Nyaris semua tempat yang biasa dikunjunginya telah diperiksa. Teman-teman karibnya sudah pula ditanyai. Kalau memang ia masih berada di kota kecil itu, tentu tak sukar menemukannya. Tapi, hasil pencarian nihil. Ibu, bapak, kakak-kakak dan seluruh anggota keluarga besar itu masih terus mencari. Tak tentu sebab, gadis itu tiba-tiba saja menghilang, tak jelas ke mana. Kalau tak salah, namanya ; Novianti Ramadani. Kelapa Dua, 2006
Pekanbaru, Januari 2004 Masa’ semuda ini sudah duda? Ah, jangan bohong lah! Sungguh, saya memang duda. Sungguh (juga), aku masih perawan, belum ‘kawin’, apalagi menikah! O ya, ada pekerjaan apa di sini, tumben baru sekali chatting kok udah kopdar (kopi darat)? Ada liputan. Jurnalis? Benar! Liputan tentang apa? Masalah terorisme.Waw, mas teroris ya? Ndak, saya bukan teroris, saya duda!Berbilang bulan Noval tinggal di kota itu. Hubungan mereka makin dekat, makin akrab. Tak lagi di ruang maya, sudah di ruang nyata. Noval dan Novi benar-benar telah bertemu muka. Novi amat peduli pada Noval, teman baru dari Jogja. Mengurus kepindahan Noval, dari hotel pertama kali ia menginap ke rumah kontrakan sederhana. Memberi kursus singkat bahasa daerah, “agar tak ditipu orang sini”, kata Novi. Menunjukkan jalur-jalur alternatif bila sewaktu-waktu terjadi kemacetan. Mentraktir Noval makan siang di kantin murah meriah, tak jauh dari rumah sakit kelas menengah tempat Novi sehari-sehari bekerja, sebagai analis medis. Menemani Noval berbelanja kebutuhan harian (Odol, Sikat Gigi, Hair Cream, Sweam Pack, Sabun Mandi, Deterjen). “Kasihan ‘orang baru’ jalan sendiri” kata Novi lagi. Kenapa menduda? Karena cerai dengan istri saya. Kapan? Setahun lalu. Kenapa cerai? Istri saya yang minta. Mas tidak mempertahankannya? Sudah, tapi dia mendesak, mengancam akan bunuh diri bila tidak segera diceraikan. Kenapa? Katanya, sudah bosan dengan saya, ingin kembali pada mantan suaminya.Waw! Istri mas Noval sudah janda sebelumnya? (Noval mengangguk). Kok menikah dengan janda? Mas Noval kan bujangan waktu itu? Dia mendesak, mengancam akan bunuh diri bila tidak segera dinikahi (Novi geleng-geleng kepala). Mas Noval mencintainya? Awalnya cuma kasihan, tapi lambat laun saya belajar mencintainya. Berhasil mencintainya? Hampir! Tapi tiba-tiba dia sudah minta cerai. Punya anak? Ya. Dua, satu meninggal, satunya sudah 1,5 tahun. Siapa namanya? Ruzang Fhir (meninggal umur 8 bulan), Hazen Kawakibina, sekarang di rumah mbahnya, di Jawa. Lalu, mantan istri mas sudah nikah lagi? Sudah, tapi sekarang (sudah) cerai lagi!Orang tua mana yang merelakan anak gadisnya menjalin hubungan khusus dengan lelaki yang tak jelas asal usulnya? Si mama risih dan cemas bila membayangkan Novi, si bungsu yang manja, tiba-tiba jatuh hati pada Noval, lelaki kerempeng dan gondrong sebahu, yang sempat diajaknya singgah ke rumah ini. “Kasihan! Masih muda sudah duda” kata Novi waktu itu. “Sekedar berteman boleh-boleh saja! Tapi, awas! Jangan sampai berpacaran! Masa’ gadis secantik kamu dapat duda?”. Novi tersinggung mendengar teguran mama yang agak sentimentil. Seperti hendak menyela, tapi tak mungkin. Kapan dia pulang?, tanya mama Novi, sinis. Tiga hari lagi, pekerjaannya hampir selesai. Apa pekerjaannya? Wartawan! Nah, sudah duda, wartawan pula! Pasti sering ke luar kota, pasti banyak ceweknya. Kamu masih cuti kan? Kalau begitu, jangan ke mana-mana! Di rumah saja! Tunggu sampai dia pulang ke Jogja! Tapi ma! Pokoknya tidak boleh keluar rumah selama orang itu masih di sini. Titik! Atau ‘jangan-jangan’ kamu sudah jatuh cinta ya?Novi diam. Sementara, mamanya terus menggerutu.***
Tak sempat Noval pamit pada Novi. Sekedar berterima kasih dan tinggalkan alamat pun tidak pula. Bagaimana akan berpamitan? Tiga hari sebelum kepulangan Noval, Novi tak muncul-muncul, tak nampak batang hidungnya. Ditelpon, mailbox melulu. Dicari ke tempat kerja, katanya cuti. Datang ke rumahnya? Ah, tak mungkin! Noval membaca gelagat kurang ramah di wajah mama Novi, saat ia diajak mampir beberapa hari lalu. Agak enggan, bila bertamu lagi ke sana. Noval telah meninggalkan kota kenangan itu. Kota kecil tempat ia bertemu Novi, gadis muda yang suka bertanya-tanya. Lucu, tapi tak pemalu. Entah kapan Noval bakal bersua kembali dengan Novi. Tapi, setiap benih ketulusan Novi yang telah tersemai di hatinya, selalu disiramnya dengan gerimis masa lalu. Ya, gerimis yang merintik dari bola mata Noval saat menerawang, menggambarkan kenangan saat almarhum Ruzang Fhir cemplungkan tangan mungilnya ke dalam Aquarium karena geli melihat tiga pasang Mas Koki berenang, kejar-kejaran berebut makanan. Tanpa firasat, tanpa pertanda, tiba-tiba Ruzang pergi, meninggalkan senyum lucu, hanya menyisakan ngilu. Gerimis yang mendera, setelah lelaki itu tertimpa musibah bertubi-tubi. Anaknya meninggal, tak lama kemudian istrinya minta cerai. Kehilangan anak, istri, dan (kini) kehilangan Novi. Novi tak peduli lagi apakah mas Noval masih bujangan atau sudah duda. Juga pada takdir yang harus pertemukan gadis perawan dengan lelaki perjaka. Persetan dengan semua petuah mama. Novi sudah berhenti kerja. Jenuh. Bosan. Lebih-lebih, sejak kepergian mas. Mama, Papa, bang Fajrul, kak Irna marah-marah. Kata mereka, Novi sudah GILA. Gila rindu, mungkin. Novi pasti sudah di Jogja saat mas Noval membaca email ini. Mas Noval di mana? (Sebelum pulang kenapa tak tinggalkan alamat?). Di mana kita ketemu? Novi kangen! FROM : Novi Sulastri (novi_pernit@yahoo.com), SUBJECT : Kangen, TO : Noval Suratno (sudah_duda@sukajanda.com).Berminggu-minggu Novi menunggu kabar dari Noval. Tapi, emailnya tak kunjung berbalas. Sudah berkali-kali dihubungi ke nomor pribadinya, tapi ponsel Noval tidak aktif. Novi tetap sabar, bersetia menanam harap, sambil menggambarkan ekspresi wajah Noval saat mereka berjumpa kembali. Mungkin, Noval sedang ada tugas liputan luar kota. Mungkin pula sedang mengunjungi Hazen ke rumah mbahnya, entah di mana. Jadi, belum sempat cek surat-surat di inbox emailnya.Selamat siang! Bisa bicara dengan mas Noval Suratno? Siang! Maaf, pak Noval sudah berhenti kerja. Saya bicara dengan siapa? Novi, teman mas Noval. Boleh tau, pindah kerjanya ke mana? Maaf, kami kurang tahu. Kenapa mas Noval berhenti kerja? Sebenarnya, tidak berhenti, tapi terpaksa dikeluarkan. Maksudnya? Sejak kematian puteranya, ia depresi berat. Makin parah setelah ia cerai dengan istrinya. Perusahaan tak bisa lagi mempertahankannya. Kapan kejadiannya? Sudah lama, sekitar 3 tahun lalu. Kabar terakhir yang kami dengar, pak Noval dirawat di RSJ (Rumah Sakit Jiwa). Halo? Haloo? Halooo? Lho, kok diputus?Di kota lain, sebuah keluarga sedang panik dan uring-uringan karena baru saja kehilangan anak gadisnya. Foto perempuan berwajah oval, rambut ikal tanggung, ada tahi lalat di pipi kanannya terpampang di halaman koran-koran lokal. Nyaris semua tempat yang biasa dikunjunginya telah diperiksa. Teman-teman karibnya sudah pula ditanyai. Kalau memang ia masih berada di kota kecil itu, tentu tak sukar menemukannya. Tapi, hasil pencarian nihil. Ibu, bapak, kakak-kakak dan seluruh anggota keluarga besar itu masih terus mencari. Tak tentu sebab, gadis itu tiba-tiba saja menghilang, tak jelas ke mana. Kalau tak salah, namanya ; Novianti Ramadani. Kelapa Dua, 2006
Catatan :*) Bahasa chat, ASL singkatan dari age, sex and location. PLS : Please. Artinya lawan bicara meminta identitas asli (jenis kelamin, usia dan tempat tinggal) M, singkatan dari male (cowok), F, singkatan dari female (cewek)**) U, dipahami sebagai you (kamu) ***) Nama Asli
Damhuri Muhammad






0 Comments:
Post a Comment
<< Home