Friday, November 23, 2007

~* Renungan *~

Aku pernah merasakan sakitnya mencintai seseorang tetapi dia tidak mencintaiku. Tapi ku berusaha melapangkan hati, mungkin Allah menginginkan aku untuk bertemu dengan orang yang tidak tepat sebelum aku bertemu dengan orang yang tepat. Agar ketika bertemu dengan orang yang tepat, aku dapat mensyukuri betapa besarnya anugerah itu. Maka saat cinta sekali lagi hadir cinta memanggil, ku datang padanya dengan rasa berbunga walaupun ku tahu jalan yang ku lalui begitu tajam dan berliku. Dengan penuh kesabaran ku lalui jalan setapak penuh kerikil, bersamamu bergandengan tangan, saling menguatkan. Sering kau tuturkan berjuta rencana indah yang akan kita lalui bersama. Sampai pada akhirnya hari itu tiba, ijab kabul telah terluncur sempurna dari bibirmu, cukup sekali saja. Padahal kau tak sempat menghafal semalam, aku sibuk dengan keluargaku yang baru datang dini hari dari Jepara-ucapmu menjelaskan.

Ini tempat pertama kali ketemuan ma ayah (pic nya diambil ma Tante Nike, makasih ya)

Seriring perjalanan sang waktu, aku pun mencicipi keindahan masa kehamilan. Menikmati setiap detik perkembangan sang janin yang makin hari makin membesar. Kala baju ku semakin tak bisa dipakai, berat badan yang terus merangkak naik sampai 88 kg kau pun tetap setia disampingku. Menemani tidurku yang kerap terusik dengan mimpi buruk. Mendekap ku dengan penuh kelembutan, mengusap halus perut yang buncit sambil membisikkan kata : “Dek, ayah sayang dedek. Sayang bunda juga. Dedek bobok ya nak” .27 Agustus 2007, ku harus menghadapi persalinan. Bersama para perawat kau bopong tubuh ku menuju tempat yang menurutku menakutkan, sebentar lagi aku akan meregang nyawa-pikirku seperti itu. Ternyata proses persalinan ku lewati juga. Bahagia tak tertahankan ketika melihat sebentuk wajah polos itu. Dulu aku membayangkan bagaimana wajahmu, dek. Duh senangnya sekarang bisa aku menatap wajah itu.

Karena ku terbuat dari tulang rusukmu, maka ku coba tuk saling melengkapi. Menjadikamu penolong yang sepadan, bukan lawan yang sepadan. Pada saat pertandingan, ku akan berada di belakangmu menangkap bola yang terlewati. Tapi ku tetap seorang perempuan, wanita, yang selalu butuh rasa aman, merasa dilindungi tak hanya secara fisik tetapi juga emosi. Aku tidak tertarik dengan fakta-fakta yang akurat, bahasa yang logis dan teliti yang dapat disampaikan secara detail oleh seorang lelaki, tetapi yang ku butuhkan adalah perhatianmu, kata-kata yang lembut, ….ungkapan-ungkapan sayang yang sepele darimu, namum bagi ku itu semua sangat berarti, membuatku aman di sisi mu.

Kini hal itu mulai berkurang dari mu, setelah setahun usia pernikahan kita. Pernah dengan sengaja ku utarakan perasaanku, kau seperti tertohok. Terhenyak sejenak dengan dahi berkerut, mencoba berpikir. Tapi tak sedikit pun kata terucap, kau hanya bangkit dari dudukmu, meninggalkan aku pergi begitu saja. Karena kau dan buah hatiku adalah milikku yang paling berharga, maka ku coba untuk tetap memegang erat dengan penuh keyakinan. Karena ku tahu di sana ada kekuatan, yang melupakan ku untuk mementingkan diri sendiri. Karena di sana ada kekuatan untuk tetap setia, walaupun panggilan sayang telah terganti dengan ndut (begitu kau biasa memanggilku.red) karena tubuh ku yang tak kunjung kurus setelah mengandung. Ku tetap bertahan, Yah. Apalagi saat melihat wajah mu ketika tertidur pulas. Saat itulah tampak ekspresi wajah paling jujur darimu. Orang inilah yang rela melakukan apa saja asalkan perutku dan anak ku kenyang, yang melakukan apa saja demi masa depan ku dan anakku. Ku rasakan getaran cinta yang mengalir halus dari wajah yang terlelap disampingku. Ku rasakan gelombang cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyak pengorbanan demi kebahagiaan keluarga barunya.

Tak bisa ku pungkiri, pengorbanan itu kerap tertutupi oleh kesalahpahaman yang entah kenapa selalu saja nampak besar. Tapi Allah secara ajaib mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah jujur mu saat sedang tidur. Pengorbanan yang melelahkan namun enggan diungkapkan,tetapi ekspresi wajah ketika tidur mengungkapkan segalanya. Ku resapi kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajahmu. Seketika itu pun kebahagiaan dan keharuan membuncah dari dalam hati, menetes air mataku.

Ku telah belajar, mencoba menerima kekuranganmu dengan senyum, mengabdikan hidupku untuk mu dan buah hati kita. Membawa cinta dalam setiap langkahku, yang akan membimbingku ke jalan yang lurus, jalan menuju kebaikan, serta dengan harapan kesuksesan selalu menyertai kehidupan kita. I love you, yah. I love you, Varo. I love you all. Happy first wedding anniversary.

1 Comments:

At 8:28 AM, Anonymous Anonymous said...

hepi 1st anniversary ya.. moga langgeng (nke)

 

Post a Comment

<< Home