Tuesday, February 12, 2008

My Belle Reve

Hidup tanpa impian, bagai sayur tanpa garam. Begitulah aku mengibaratkan pentingnya sebuah impian dalam hidup. Bermula dari impian akhirnya berubah menjadi sebuah cita-cita yang dengan sekuat tenaga berusaha untuk mewujudkannya menjadi nyata.

Terlahir dari sebuah keluarga yang sederhana dan demokratis membuat aku menjadi seorang yang tidak dengan mudah mendapat sesuatu. Setiap kenaikan kelas orang tuaku berjanji mengajak aku dan kakakku jalan-jalan ke taman remaja, tapi syaratnya ya harus rangking dulu. Intinya orang tua ku menerapkan punishment and reward kepada anaknya.

Kini aku merasa sangat beruntung, bersyukur pada Allah SWT berkat semua karunia yang dia berikan padaku. Berkat didikan kedua orang tua ku, aku menjadi orang yang harus berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu. Intinya tidak ada sesuatu yang bisa didapat dengan mudah tanpa ada kerja keras. Dan perlahan tapi pasti, satu per satu impianku menjadi nyata. Belle Reve – ku, impianku.

Aku mulai merajut mimpi ketika beranjak memasuki SMK. Mimpi yang sampai kini masih terus ku ingat. Keputusan untuk menempuh pendidikan kejuruan, harus ku akui menuai banyak protes. Beberapa teman sebaya ku mencibir, apa yang hendak kau dapat dengan sekolah di kejuruan. Saat itu aku hanya tersenyum. Dalam hati aku hanya berkata, kita lihat saja nanti. Aku percaya dengan yang aku ambil saat ini adalah yang terbaik.

Lulus dari sekolah kejuruan, aku mulai melamar diperusahaan-perusahaan, semua berbekal kemampuan yang aku dapat semasa sekolah. Beruntung setelah 3 bulan kelulusan, aku diterima di perusahaan penerbitan tempat aku magang dulu walaupun hanya dikontrak selama 3 bulan.

Saat bersamaan aku mulai menuliskan mimpi ku di langit biru, bertuliskan tinta emas. Aku ingin segera mendapatkan pekerjaan tetap, kurang lebih setahun setelah kelulusan. Karena impianku selanjutnya adalah bekerja di pagi hari, dan kemudian malamnya kuliah.

Semua tak mungkin berjalan dengan mulus, memang harus ada sedikit kerikil yang menghadang perjalanan hidup ini. Setelah menjadi seorang staf administrasi di perkantoran, aku terlempar sebagai pekerja kasar yang lebih mengandalkan otot dari pada otak. Bekerja di sebuah pabrik kosmetik terkenal di Surabaya sebagai tenaga kontrak selama 3 bulan. Pabrik yang bising ditambah lagi suara gaduh dari para pekerja yang mayoritas perempuan. Selama beberapa minggu aku sempat shock, sungguh sesuatu yang diluar perkiraanku. Aku sempat menjadi gunjingan mereka, karena ku tak mau mengganti baju ku dengan baju asal-asalan ketika bekerja. Pertimbangan ku saat itu aku tak mau ribet sendiri. Bayangkan saja, berangkat dengan baju rapi kemudian sampai disana ganti baju dengan kaos oblong dan celana pendek butut. Ditambah lagi ruang yang sempit dipenuhi dengan orang berpuluh-puluh. Bisa dibayangkan betapa ribetnya. Aku memilih untuk tetap memakai bajuku dari berangkat sampai nanti pulang. Suara miring pun makin nyaring ketika ada seorang pria mencoba mengetuk hati ku. sejenak aku melupakan ketidaknyamanan yang ku rasakan. Gejolak darah muda membuncah. Percik-percik asmara sedikit menyejukkan jiwa.

Tapi aku tetap bertekad untuk tidak terlalu lama berada ditempat yang asing itu. Walaupun ada sedikit rasa berat meninggalkan seseorang yang mulai mengisi hari-hariku. Menjelang habis masa kontrak, aku mendapat panggilan tes dari sebuah perguruan tinggi negeri di surabaya. Singkatnya, masa kontrak di pabrik kosmetik selama 3 bulan hanya ku jalani 2,5 bulan. Aku menggundurkan diri, meninggalkan tempat yang selama ini menyengsarakan sekaligus menorehkan banyak kenangan. Mau tidak mau pun seseorang itu harus aku tinggalkan, walaupun dia mencoba tetap mempertahankan hubungan, tetapi toh akhirnya dia juga yang mengakhiri semuanya. Tak dapat dipungkiri ada sayat luka yang ia torehkan direlung hatiku.

Suasana baru kembali harus aku jalani. Mulailah lagi penyesuaian diri dari awal. Aku mulai merencanakan untuk mengambil kuliah malam. Perguruan tinggi swasta menjadi pilihan terakhir ku. Mulailah rutinitas padat ku jalani. Pagi berangkat kerja sampai jam 4 sore. Kemudian langsung meluncur ke kampus sampai jam 9 malam. Kadang jika kebosanan sudah memuncak, aku memilih untuk bolos kuliah hanya untuk sekedar nongkrong dengan teman-teman di warung langganan kami.

Kali ini keinginan apa yang ingin kau torehkan??? Aku ingin menikah. Paling tidak sekitar semester lima. Tapi apa mungkin, sampai akhir semester dua, tak ada seorang pun yang singgah di hati. Ya sudahlah, untuk kali ini aku tidak terlalu ngoyo, aku hanya bermimpi tanpa usaha. Aku masih konsen dengan kesibukan di tempat kuliah. Entah iseng atau gimana, seorang teman kuliah ku mempromosikan teman kost nya padaku. Aku hanya menjawab sekenanya. Akhirnya dikirimlah nomor hp ku pada teman kostnya. Tak ada perasaan apa pun saat itu. Sampai pada akhirnya ada sebuah sms masuk yang mengajak berkenalan. Aku mengiyakan. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak. Semua berjalan sangat singkat sampai akhirnya diakhir semester lima aku benar-benar menikah. Ijab kabul dilaksanakan sehari setelah aku menempuh ujian akhir semester. Rasanya konsentrasiku terpecah, antara strees menghadapi ujian dan persiapan pernikahan. Alhamdulillah keduanya berjalan dengan lancar.

Kehidupan baru ku jalani. Menyatukan dua kepala dengan dua isi yang berbeda. Kadang ada perselisihan yang kemudian berakhir damai, karena suami ku banyak mengalah. Sebulan setelah menikah, aku hamil. Kali ini aku punya impian anak pertama ku laki-laki. Tapi kalau pun ternyata perempuan aku tetap bersyukur. Sembilan bulan kemudian aku melahirkan tepat tanggal 27 Agustus 2007, maju satu minggu dari tanggal perkiraan dokter. Aku benar-benar mendapatkan anugerah, anak pertamaku laki-laki yang tampan.

Sampai saat ini aku masih punya seribu impian (karena itu aku menamakan blog ini seribu impian). Aku berharap kejelasan status kepegawaianku tahun ini bisa berkabul. Aku berharap kuliah segera selesai. aku berharap jika nanti diberi kepercayaan untuk hamil lagi, aku ingin punya anak kembar. Aku bermimpi……………………

Syukur selalu ku ucapkan padaMu yang telah mewujudkan mimpi-mimpiku menjadi nyata.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home