Wedding Card special for my beloved brother

Detik jarum jam berjalan lambat tapi pasti. Waktu pun akan segera beranjak mendekati angka 31 Juli. Tanggal yang telah ditetapkan oleh kedua keluarga, sebagai hari bersatunya ikatan cinta kedua putra dan putrinya. Memang tak pernah ku lihat jelas ada rona kekhawatiran yang memancar dari mas ku tersayang. Tapi aku yakin perasaannya tak jauh beda dengan apa yang dulu aku alami. Menikah dengan kekasih hati tetapi ada sebentuk rasa sedih yang menyelip. Bagaimana tidak, ada seseorang yang dengan rela mengijinkan adiknya untuk melangkah lebih dulu ke jenjang pernikahan.
Dulu aku menikah dengan mendahului mas ku. Sekarang mas ku menikah dengan gadis yang mendahului mbaknya. Kerelaan dan keikhlasan itu tak ku kantongi dengan mudah. Sempat ada pergesekan antara aku dengan mas ku. Mulai dari di cuekin sampe tidak ada ucapan selamat yang meluncur dari bibir mas ku saat hari pertunanganku. Semua ku lewati dengan air mata yang tak sedikit. Aku mencoba meraba perasaannya, yang kala itu baru saja wisuda dan belum mendapatkan pekerjaan tetap. Pacar pun belum punya. Berbeda dengan aku. Aku memang belum mengantongi gelar sarjana, tapi bisa dibilang pekerjaanku lebih menjanjikan. Aku mencoba bersabar dengan segenap kekuatan, menanti keajaiban datang yang akan memuluskan langkah ku menuju mahligai pernikahan. Perlahan hatinya mencair, dia mulai membuka diri dengan calon suamiku. Dan kembali mau berbagi cerita denganku, atau jalan-jalan bersama. Dari situlah terbuka semuanya. Mas ku tidak rela kehilangan adiknya yang akan segera menikah. Mas ku merasa sejak aku mempunyai pacar, dia tidak lagi dibutuhkan. Padahal sebelumnya, kita memang selalu berdua. Teman – teman dia adalah teman ku juga, begitu juga sebaliknya.
Ketegangan pun akhirnya benar-benar telah menguap. Tepat pada saat hari pernikahan, setelah ijab Kabul, dia merangkul ku dengan hangat dan mengucapkan selamat. Ibu ku tak dapat menahan bulir-bulir air mata mengalir dari mata syahdunya. Ibu ku yang tahu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan restu dari mas ku, ibu ku yang ada saat masa tersulit ku, dan dialah ibu ku yang sangat aku cintai.
Kini pun aku tahu bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan restu dari sang kakak ipar. Ingatanku berputar, aku jadi ingat bagaimana gigihnya perjuangan suami ku untuk meluluhkan hati mas ku. Dia selalu menyunggingkan senyum, walaupun mas ku sedikit pun tak meliriknya. Dia tetap mengajaknya berbicara segala hal, walaupun mas ku tak menjawab sepatah kata pun. Hati ku sempat miris melihatnya.
Mas ku tak pernah cerita bagaimana usahanya untuk melunakkan hati kakak iparnya. Tapi aku sangat tahu bahwa ia juga berjuang keras sekeras yang dilakukan suami ku waktu itu.
Seutas senyum merekah, usahanya tak sia-sia. Restu telah ia dapatkan. Nanti tepat pada tanggal 31 Juli, ia akan melafalkan kalimat ijab. Aku pun bersiap untuk pernikahannya. Sebuah kartu ucapan sengaja aku buat sendiri, khusus sebagai penghantar kado yang akan dibingkiskan. Ku sisipkan sebuah puisi dan doa barakah untuknya. Tak lupa sebuah foto kecil, aku bersama suami dan si kecil Varo. Selamat ya mas……
Dulu aku menikah dengan mendahului mas ku. Sekarang mas ku menikah dengan gadis yang mendahului mbaknya. Kerelaan dan keikhlasan itu tak ku kantongi dengan mudah. Sempat ada pergesekan antara aku dengan mas ku. Mulai dari di cuekin sampe tidak ada ucapan selamat yang meluncur dari bibir mas ku saat hari pertunanganku. Semua ku lewati dengan air mata yang tak sedikit. Aku mencoba meraba perasaannya, yang kala itu baru saja wisuda dan belum mendapatkan pekerjaan tetap. Pacar pun belum punya. Berbeda dengan aku. Aku memang belum mengantongi gelar sarjana, tapi bisa dibilang pekerjaanku lebih menjanjikan. Aku mencoba bersabar dengan segenap kekuatan, menanti keajaiban datang yang akan memuluskan langkah ku menuju mahligai pernikahan. Perlahan hatinya mencair, dia mulai membuka diri dengan calon suamiku. Dan kembali mau berbagi cerita denganku, atau jalan-jalan bersama. Dari situlah terbuka semuanya. Mas ku tidak rela kehilangan adiknya yang akan segera menikah. Mas ku merasa sejak aku mempunyai pacar, dia tidak lagi dibutuhkan. Padahal sebelumnya, kita memang selalu berdua. Teman – teman dia adalah teman ku juga, begitu juga sebaliknya.
Ketegangan pun akhirnya benar-benar telah menguap. Tepat pada saat hari pernikahan, setelah ijab Kabul, dia merangkul ku dengan hangat dan mengucapkan selamat. Ibu ku tak dapat menahan bulir-bulir air mata mengalir dari mata syahdunya. Ibu ku yang tahu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan restu dari mas ku, ibu ku yang ada saat masa tersulit ku, dan dialah ibu ku yang sangat aku cintai.
Kini pun aku tahu bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan restu dari sang kakak ipar. Ingatanku berputar, aku jadi ingat bagaimana gigihnya perjuangan suami ku untuk meluluhkan hati mas ku. Dia selalu menyunggingkan senyum, walaupun mas ku sedikit pun tak meliriknya. Dia tetap mengajaknya berbicara segala hal, walaupun mas ku tak menjawab sepatah kata pun. Hati ku sempat miris melihatnya.
Mas ku tak pernah cerita bagaimana usahanya untuk melunakkan hati kakak iparnya. Tapi aku sangat tahu bahwa ia juga berjuang keras sekeras yang dilakukan suami ku waktu itu.
Seutas senyum merekah, usahanya tak sia-sia. Restu telah ia dapatkan. Nanti tepat pada tanggal 31 Juli, ia akan melafalkan kalimat ijab. Aku pun bersiap untuk pernikahannya. Sebuah kartu ucapan sengaja aku buat sendiri, khusus sebagai penghantar kado yang akan dibingkiskan. Ku sisipkan sebuah puisi dan doa barakah untuknya. Tak lupa sebuah foto kecil, aku bersama suami dan si kecil Varo. Selamat ya mas……






0 Comments:
Post a Comment
<< Home