Filosofi Gelas
Tulisan ini terinspirasi oleh seseorang yang menyebut dirinya sebagai GELAS. Gelas yang selalu menampung air-air keruh dan kemudian berharap dapat menyaringnya dan membersihkannya, menjadikannya kembali menjadi air bersih. Aku tertarik dengan filosofi yang coba dibangun dalam dirinya. Seseorang menjadi lebih dewasa dengan segala masalah yang menghadangnya, menerima segala keluh kesah dari orang lain pun tak kalah pentingnya dalam membangun tiang-tiang kedewasaan kita. Itulah yang coba kau lakukan sekarang, dari pertama kali ku mengenalmu sampai sekarang pun fungsimu tetap sama sebagai sebuah gelas. Aku sendiri lebih senang menyebutmu, “tempat sampah setiaku”. Karena yang kerap kali ku lontarkan padamu adalah segala yang tidak mengenakkan.
Aku sempat tidak setuju dengan apa yang kau lakukan setelah membaca JASMINE. Aku tau itu hak mu, tapi bagaimana pun seorang wanita tak kan bisa duduk diam manis ketika ada seorang yang setiap saat, setiap detik mengirimkan puisi-puisi puitis nan romantis. Yang jelas hatinya pasti bergolak, riak-riak rasa suka, melayang, terbuai semua bercampur menjadi satu. Walaupun niat awal yang ingin kau bangun bukan itu, hanya ingin memuja wanita-wanitamu.
Dibalik itu semua, kau masih tetap tempat sampah setia ku, atau pun GELAS setia – seperti yang engkau sebut. Aku senang ketika perubahan itu terjadi, bagaimana pun seseorang tidak boleh melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Kau harus lebih dewasa dalam menyikapi segala hal, harus berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu. Semua orang belajar dari perjalanan hidup yang terus berputar. Oke, ayo berubah menuju kebaikan, menjadi lebih berguna buat orang lain. Never give up! Semangaaaaaat!
Aku sempat tidak setuju dengan apa yang kau lakukan setelah membaca JASMINE. Aku tau itu hak mu, tapi bagaimana pun seorang wanita tak kan bisa duduk diam manis ketika ada seorang yang setiap saat, setiap detik mengirimkan puisi-puisi puitis nan romantis. Yang jelas hatinya pasti bergolak, riak-riak rasa suka, melayang, terbuai semua bercampur menjadi satu. Walaupun niat awal yang ingin kau bangun bukan itu, hanya ingin memuja wanita-wanitamu.
Dibalik itu semua, kau masih tetap tempat sampah setia ku, atau pun GELAS setia – seperti yang engkau sebut. Aku senang ketika perubahan itu terjadi, bagaimana pun seseorang tidak boleh melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Kau harus lebih dewasa dalam menyikapi segala hal, harus berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu. Semua orang belajar dari perjalanan hidup yang terus berputar. Oke, ayo berubah menuju kebaikan, menjadi lebih berguna buat orang lain. Never give up! Semangaaaaaat!
Yang jelas GELAS yang satu ini suka sekali dengan POCARI SWEAT!






1 Comments:
thanks for everything, sekali sampah tetap sampah.....dan ak tak akan mo menjadi yg lain.
Post a Comment
<< Home