Betapa Sulitnya Menerimamu Apa Adanya
Sejak biduk mulai berlabuh, sudah dapat kurasakan riak ombak mengoyang. Semakin melaju ke tengah laut, semakin kencang riaknya menerpa biduk kecilku. Ku coba untuk berpegang erat agar tak terjatuh, pun ku kokohkan kaki ku berpijak agar kesimbangan bidukku kembali. Lambat kemudian, semuanya kembali tenang. Tapi kedamaian hanya sesaat, kali ini bukan riak-riak kecil yang bermain-main riang, tetapi ombak besar menggulung. Liar, seakan tanpa ampun siap menenggelamkan biduk kecilku. Sekuat tenaga aku berikhtiar, memejamkan mata dengan memohon kekuatan dariMu. Tak terasa air mata pun mengalir. Betapa susahnya menghadapimu, betapa sukarnya menyelaraskan langkah kaki ku denganmu. Kadang aku ingin kita berlari, tapi kau hanya ingin kita melangkah santai saja. Kadang aku memimpikan sebuah bintang di langit terang, tetapi kau hanya ingin sepetak rumah mungil saja. Kadang aku mengangap perhatian itu penting, tetapi bagimu tidak. Betapa sulitnya menerimamu apa adanya, tapi ku harus tetap mencoba. Haruskah?????






0 Comments:
Post a Comment
<< Home